PADA suatu hari terjadi percakapan antara Nabi dengan Abu Bakar assiddiq. Sahabat yang lain pula mendengarkannya.
"Wahai Abu Bakar, begitu rinduku ingin bertemu dengan saudara-saudaraku (kawan)," berkata Nabi.
"Wahai Nabi, bukankah kami ini teman-temanmu?" Jawab Abu Bakar.
"Bukan!" Kata Nabi.
"Kamu ini adalah sahabat-sahabatku," selanjutnya Nabi berkata dan menegaskannya.
Keterangan Nabi itu sungguh mengherankan Abu Bakar, juga sahabat yang lain. Apakah bedanya antara. Sahabat dah ikhwan. Siapakah yang dimaksud Nabi itu dengan penuh kerinduan?
Demikian persoalan bermain dalam pikiran mereka dan suasana percakapan menjadi serius karena masing-masing ingin tahu tentang, bahkan ini persoalan yang belum pernah mereka dengar dari Nabi saw.
Nabi segera memahami suasana yang ada bila keterangan beliau mengejutkan Abu Bakar dan sekelian sahabat yang ada di majelis itu. Maka segeralah beliau menghuraikannya.
kawan (saudara-saudaraku), "
"Mereka belum pernah melihat aku, tetapi mereka beriman aku sebagai Nabi dan mereka mencintaiku. Aku dicintai melebihi dari anak dan orang-orang tua.
"Ya Rasulullah, bukankah kami ini ikhwan engkau?" Tanya sahabat.
"Kamu semua adalah sahabat-sahabatku," jelas Nabi.
"Wahai Abu Bakar. Apakah engkau tidak akan merindui ke kawan itu karena mereka juga mencintai engkau karena engkau sahabatnya? "Demikian Nabi memperjelas hal itu.
Beliau menjelaskan bahwa mereka itu sesudah wafatnya beliau. Mereka itu beriman kepada Allah dan Rasul meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan beliau.
Mereka membaca quran dan hadis karena menyintai NabiNya sebagai rasul yang penghabisan. Mereka juga mencintai Abubakar dan sahabat Nabi yang berjuang pada menegakkan Islam.
Dalam suatu waktu yang lain, beliau membicarakan kepada sahabat-sahabat tentang kemurnian iman kawan dan sekali lagi mereka menjadi bingung.
"Siapakah makhluk Allah yang paling ajaib imannya?" Tanya Nabi lagi.
"Malaikat," jawab mereka.
"Bagaimana Malaikat tidak beriman dengan Alllah sedangkan mereka selalu dekat dengan Allah," jawab beliau.
"Para Nabi," jawaban mereka.
"Bagaimana para Nabi tidak akan beriman sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka?" Nabi membantah jawaban mereka.
"Kami" jawab sahabat.
"Bagaimana kamu tidak akan beriman sedangkan aku berada di tengah-tengahmu?" Jawab Nabi.
Betapa herannya para sahabat mendengar jawaban Nabi itu dan mereka sudah cukup bisa memahaminya. Sedangkan Nabi diketahui betapa mereka sangat ingin mengetahui siapakah makhluk ini yang paling ajaib imannya.
"Makhluk yang paling ajaib adalah mereka yang hidup sesudahku. Mereka membaca quran dan beriman dengan semua isinya, "
Nabi saw pernah menegaskan lagi tentang kemurnian iman kawan dalam sabdanya:
"Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman dengan aku. Dan berbahagialah tujuh kali orang-orang yang beriman dengan aku tetapi tidak pernah bertemu dengan aku, "
Demikian Nabi saw mencintai kawan itu.
