Memang Benar 100% and semua cerita ini bisa kita peroleh buktinya di Museum Amsterdam !!!
Orang muda yg Lahir mulai tahun 1960 banyak yang “Belum” mengetahui adanya “A True Story” mengenai “Wali Songo” ini !!!
Saya pernah membaca/mendengar Cerita mengenai asal usulnya keluar nama sungai “Ogan Komering” di Sum Sel.
Singkat Cerita,untuk Mengenang “Sunan Kalijaga” yg Lahir/lama tinggal disana dengan nama:“Gan Sie Cang” maka rakyat menamakan suatu Sungai dgn nama Sungai Ogan and jangan Heran kalau kita melihat orang sana yg bermata Sipit &kulitnya juga berwarna “Putih/Kuning” !!!
| Entah kenapa banyak sekali sdr kita umat Muslim
merasa gerah, apabila mendengar bahwa delapan dari Sunan Walisongo itu
adalah orang Tionghoa, padahal Nabi Muhammad saw sendiri pernah bersabda
“Tuntutlah ilmu walau sampai negeri Cina” (Al Hadits), nah pada saat
itu orang Tionghoa nya sendirilah yg datang ke Indonesia, sehingga
mereka tidak perlu repot2 harus pergi belajar untuk menuntut ilmu ke
Tiongkok.
Prof Slamet Mulyana pernah berusaha untuk mengungkapkan hal tsb
diatas dlm bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya
Negara-negara Islam di Nusantara”, tetapi pada th 1968 dilarang beredar,
karena masalah ini sangat peka sekali dan mereka menilai menyakut
masalah SARA. Kenapa demikian?
Bayangkan saja yg mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa adalah
orang Tionghoa, bahkan Sultan nya yg pertama pun adalah orang Tionghoa:
Chen Jinwen alias Raden Patah alias Panembahan Tan Jin Bun/Arya (Cu-Cu).
Walisongo atau Walisanga yg berarti sembilan (songo) Wali, tetapi
ada juga yg berpendapat bahwa perkataan songo ini berasal dari kata
“tsana” yg berarti mulia dlm bhs Arab sedangkan pendapat lainnya
mengatakan bahwa kata tsb berasal dari kata “sana” dlm bhs Jawa yg
berarti “tempat”
Para wali tsb mendapatkan gelar Sunan, yg berarti guru agama atau
ustadz, namum perkataan Sunan itu sebenarnya diambil dari perkataan
“Suhu/Saihu” yg berarti guru dlm bhs dialek Hokkian, sebab para wali itu
adalah guru2 Pesantren Hanafiyah, dari mazhab (sekte) Hanafi.
Perlu diketahui bahwa sebutan “Kyai” yg kita kenal sekarang ini
sebagai sebutan untuk guru agana Islam setidak-tidaknya hingga jaman
pendudukan Jepang masih digunakan untuk panggilan bagi seorang lelaki
Tionghoa Totok,
seperti pangggilan “Encek”. Jadi bagi mereka yg merasa bahwa dirinya orang Tionghoa totok tulen silahkan menyandang gelar Kiyai.
seperti pangggilan “Encek”. Jadi bagi mereka yg merasa bahwa dirinya orang Tionghoa totok tulen silahkan menyandang gelar Kiyai.
Walisongo ini didirikan oleh Sunan Ampel pada th. 1474. Yg terdiri dari 9 wali yaitu:
Sunan Ampel alias Bong Swie Ho
Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo
Sunan Kudus alias Zha Dexu – Ja Tik Su
Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho
Sunan Muria
Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat
Sunan Drajat alias Bong Tak Keng
Sunan Bonang alias Bong Tak Ang
Sunan Kalijaga alias Gan Si Cang
Sunan Gunung Jati alias Du Anbo – Toh A Bo
Sunan Kudus alias Zha Dexu – Ja Tik Su
Sunan Giri adalah cucunya Bong Swie Ho
Sunan Muria
Maulana Malik Ibrahim alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat
Sunan Ampel (Bong Swie Ho) alias raden Rahmat lahir pada th 1401 di
Champa (Kamboja), ia tiba di Jawa pada th 1443. Pada saat itu di Champa
banyak sekali orang Tionghoa penganut agama Muslim yg bermukim disana.
Pada th 1479 dia mendirikan Mesjid Demak. Ia juga perencana kerajaan
Islam pertama di Jawa yang beribu kota di Bintoro Demak, dengan
mengangkat Raden Patah alias Chen Jinwen – Tan Jin Bun sebagai Sultan
yang pertama, ia itu puteranya dari Cek Kopo di Palembang.
Orang Portugis menyebut Raden Patah “Pate Rodin Sr.” sebagai
“persona de grande syso” (orang yg sangat bijaksana) atau “cavaleiro”
(bangsawan yg mulia), walaupun demikian orang Belanda sendiri tidak
percaya moso sih sultan Islam pertama di Jawa adalah orang Tionghoa.
Oleh sebab itulah Residen Poortman 1928 mendapat tugas dari pemerintah
Belanda untuk menyelidikinya; apakah Raden Patah itu benar2 orang
Tionghoa tulen?
Poortman diperintahkan untuk menggeledah Kelenteng Sam Po Kong dan
menyita naskah berbahasa Tionghoa,dimana sebagian sudah berusia 400
tahun sebanyak tiga cikar/pedati. Arsip Poortman ini dikutip oleh
Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial Tuanku Rao, dan
Slamet Mulyana juga banyak menyitir dari buku ini.
Pernyataan Raden Patah adalah seorang Tionghoa ini tercantum dlm
Serat Kanda Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun,dan dalam Babad Tanah
Jawi disebut sebagai Senapati Jimbun. Kata Jin Bun (Jinwen) dalam
dialek Hokkian berarti “orang kuat”.
Cucunya dari Raden patah Sunan Prawata atau Chen Muming/Tan Muk
Ming adalah Sultan terakhir dari Kerajaan Demak, berambisi untuk
meng-Islamkan seluruh Jawa, sehingga apabila ia berhasil maka ia bisa
menjadi “segundo Turco” (seorang Sultan Turki ke II) setanding sultan
Turki Suleiman I dengan kemegahannya.
SUMBER :
- Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang – Utrecht: Den Boer
- G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java” – “Islamic states in Java 1500 -1700″.
- Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia”
- Prof. Slamet Mulyana “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara
- Jan Edel “Hikajat Hasanoeddin”
- B. J. O. Schrieke, 1916, Het Boek van Bonang – Utrecht: Den Boer
- G.W.J. Drewes, 1969 The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff
- De Graaf and Pigeaud “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java” – “Islamic states in Java 1500 -1700″.
- Amen Budiman “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia”
- Prof. Slamet Mulyana “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara
media online indonesia

